CERPEN "Love at School"


LOVE CODE

    Cinta. Sesuatu yang selalu didambakan tetapi sulit diungkapkan. Sesuatu yang selalu dinanti tetapi sulit dipahami. Begitulah cinta. Ketika kalimat “I love you“ tak bisa diungkapkan dengan tutur kata, ketika rasa ingin memilki terpendam dalam hati, hanya angan dan harap yang tersisa. Menyatakan cinta secara langsung memang tidak mudah. Lalu bagaimana dengan menyatakan cinta secara tidak langsung? Tentu menjadi mudah berkat adanya mading a.k.a majalah dinding sekolah.
     Sudah sebulan lebih kegiatan mading sekolah “Love Day” berjalan dengan baik. Love Day jatuh setiap hari Senin. Mengapa Senin? Karena Senin adalah hari pertama memulai kegiatan sekolah. Alangkah indahnya jika hari pertama sekolah diawali dengan penuh cinta. Setiap senin di depan ruang sekretariat mading sekolah disediakan kotak bertuliskan “Love Box”. Kotak itu berguna untuk menampung surat cinta dari para murid seantero sekolah. Surat harus dimasukkan dalam amplop dengan mencantumkan nama dan kelas penerima surat. Surat-surat itu nanti akan diantarkan ke tujuan oleh petugas pengantar surat yaitu anggota mading sendiri.
    “ Retha! Tumben pagi-pagi gini udah dateng.“ seru Randy – menghampiri Retha yang terlihat sibuk memeriksa isi Love Box.
     “ Eh, Randy! Iya nih. Kan Senin ini tugas gue nganter surat. Lo sendiri? Ngapain dateng jam segini? tanya Retha menyelidik.
      “ Hm. Mau bantuin lo, Tha. Hehe. “ ujar Randy tersipu malu.
      “ Haha bisa aja lo, Ran. Thanks ya.”
    Tumpukan surat di pagi hari itu cukup banyak – hampir mencapai setengah kotak. Tampaknya semakin banyak murid yang jatuh cinta setiap minggunya. Retha yang dibantu Randy memeriksa surat itu satu per satu di dalam ruang sekretariat mading. Untuk mempermudah proses pengantaran surat, surat-surat itu dikumpulkan berdasarkan kelas. Retha tampak fokus membaca nama penerima surat. Di sisi kanan meja terlihat sekumpulan surat – sekitar 5 atau 6 surat – yang ditujukan untuk seseorang yang sama. Seseorang itu selalu menjadi pemegang rekor penerima surat terbanyak setiap minggunya. Ia lah Fadli – anak ekstrakulikuler basket sekolah yang terbilang tampan, cool, dan berperawakan tinggi. Bukan hal yang biasa jika ia punya banyak penggemar – termasuk Retha.
    Retha masih fokus memeriksa satu per satu surat sementara Randy justru fokus memperhatikan Retha. Tiba-tiba Retha terkejut. Pandangan matanya terfokus pada satu surat bertuliskan “Untuk Maretha – XI IPA 1“. Secepat mungkin ia menyembunyikan surat itu ke dalam saku roknya.
     “Ada apa, Tha? Tiba-tiba kaget gitu? “ tanya Randy heran melihat ekspresi wajah Retha yang mendadak berubah.
    “Hm. Ga ada apa-apa kok, Ran. Yuk ke kelas. Udah jam 7 nih. Bentar lagi pasti bel bunyi.“ jawab Retha sambil tergesa-gesa memasukkan kumpulan surat ke dalam tasnya.

***
   Di dalam kelas, semua murid tampak serius memperhatikan Pak Guru yang sedang menjelaskan materi Geografi. Sementara Retha justru serius membaca surat yang diterimanya tadi pagi. Surat itu hanya berisi huruf dan angka “C.3.111.12.6-8”. Retha mengernyitkan dahi sambil sesekali melamun memikirkan maksud huruf dan angka itu.
      “ Dor! Ngelamun aja daritadi, Tha. Eh? Kertas apaan tu? “ seru Sherill – teman sebangku Retha –membuyarkan lamunan Retha.
     “  Ssst, Sher. Jangan ngomong keras-keras. Ini surat. Gue dapet tadi pagi dari Love Box. Tapi isinya aneh. “ jawab Retha terus terang.
     “ Ciyeee. Dari siapa tu? Coba liat.”
     “ Dia ga nulis namanya, Sher. Coba deh liat nih. “  Retha langsung memberikan surat itu pada Sherill.
    “ Hm. Semacam kode gitu ya. Bikin penasaran aja. Dari Randy kali, Tha. Dia kan suka sama lo.”
    “ Ah masa. Tadi pagi kan Randy sama gue. Dia dateng setelah gue. Kapan dia masukin suratnya? “ gumam Retha.
     “ Bisa aja sebelum lo dateng ternyata si Randy udah dateng duluan.Terus dia pura-pura dateng setelah lo, biar ga ketauan. Gimana sih lo, Tha, gitu aja ga tau.“ gerutu Sherill.
      Dua jam berlalu. Sepanjang pelajaran, Retha hanya melamun. Apa mungkin Randy yang menulis surat itu? Kalo bukan Randy, lalu siapa? Lamunan itu tiba-tiba dibuyarkan oleh bunyi bel tepat pukul 9 – pertanda jam istirahat pertama. Retha bergegas mengantarkan surat-surat cinta yang diambilnya tadi pagi. Surat pertama yang ia antarkan adalah untuk sang pemegang rekor penerima surat terbanyak – Fadli.

***
  Dengan langkah sedikit berat, Retha menghampiri kelas Fadli – XI IPS 3 – yang berada di lantai dua. Sesampainya di depan pintu kelas, ia langsung meletakkan surat-surat itu di meja paling depan dekat pintu. Ia lalu bergegas pergi. Belum sempat beranjak pergi, langkah kakinya terhenti.
       “ Surat buat gue? Sebanyak ini? “ tanya Fadli.
      Retha sontak membalikkan tubuh – berhadapan dengan Fadli. “ Iya. Itu semua buat lo. hehe.”
       “ Wow! Thankyou! Oiya. Gue Fadli.” seru Fadli sambil mengulurkan tangan kanannya.
       “ Gue Maretha. Panggil aja Retha. “ tanpa ragu Retha menyambut tangan Fadli.
       “ Nama yang bagus. “ ujar Fadli yang terlihat sangat cool dari jarak sedekat itu.
      “ Hehe. Gue pergi dulu ya. Nganter surat lainnya. “ ujar Retha yang tidak mau lama-lama terperangkap oleh pesona Fadli.
       “ Oke. See you.”
    Langkah kaki Retha semakin berat – berat meninggalkan Fadli lebih tepatnya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan semakin kencang. Aliran darahnya berdesir cepat. Pikirannya hanya diisi oleh bayang-bayang Fadli. Hatinya dipenuhi nama Fadli. Tanpa terasa senyuman lebar menghiasi wajahnya. Langkah kakinya kini menjadi ringan. Seolah sayap-sayap kecil tumbuh dan siap membawanya terbang bebas. Ia jatuh cinta.
   Langkah ringan Retha mendadak terhenti di depan perpustakaan sekolah. Ia teringat ingin meminjam sebuah buku. Retha memang terbilang kutu buku. Hobinya membaca segala macam buku sejak kecil membuatnya rajin mengunjungi perpustakaan. Ia pun bergegas mencari buku di rak-rak yang tersusun memanjang berhadapan itu. Segera ia menuju tempat peminjaman buku setelah menemukan buku yang diinginkannya. Saat bapak pustakawan mencatat nomor buku yang dipinjamnya, ia tersadar sesuatu. Nomor buku itu adalah C.3.115.
    “ Maaf Pak, ingin tanya. Maksud nomor C.3.115 di buku ini apa ya? “ tanpa ragu Retha bertanya soal nomor buku itu.
    “ Oh, itu maksudnya begini, Neng. Buku ini terletak di rak C barisan ke-3. 115 nya itu nomor urutan buku ini di dalam rak C.” jelas Pak pustakawan panjang lebar.
     “ Oh begitu ya. Makasih, Pak.”
     Retha segera membuka surat misteriusnya. Ia bergegas mencari buku bernomor C.3.111. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung menemukan buku yang ternyata berjudul “Angan dan Harapan” itu. Ia pun segera meminjam buku itu. Mengingat ia masih memiliki tugas mengantar surat sehingga ia tidak punya banyak waktu untuk membaca buku itu di perpustakaan. Terpaksa ia memanfaatkan lagi waktu pelajaran di kelas untuk memecahkan kode di surat misteriusnya.
***
     “ Sher! Liat nih buku yang baru aja gue pinjem! “ bisik Retha ke telinga Sherill.
     “ Hm. Apa bagusnya tu buku? “ tanya Sherill heran.
    “ Liat nomor bukunya, Sher! Itu C.3.111. Liat nih surat, kode depannya sama! C.3.111 juga! “ seru Retha.
    “ Ssttt. Jangan keras-keras ngomongnya. Ayo kita buka bukunya. Hm, kode lanjutannya berarti 12.6-8. Apa ya? “ gumam Sherill yang tampak mulai antusias memecahkan kode itu.
   “ Hm. Halamannya mungkin, Sher! Coba kita buka halaman 12! “ seru Retha yang semakin antusias.
    “ Duh. Halaman 12 tulisan semua isinya. 6-8 itu baris kali ya maksudnya. Nih coba lo baca baris ke 6 sampe 8, Tha.”
   Retha segera membaca kalimat pada baris ke-6 sampai ke-8 di halaman 12 itu. Wajahnya tertegun. Mulutnya tak mampu terkatup. Rangkaian kalimat itu sungguh menyentuh hati.
“ Menapaki jejak langkahmu yang tersapu oleh waktu. Mengingat senyummu yang terbingkai dalam alunan lagu. Sungguh saat itu ku sangat ingin bertemu lagi denganmu. Kukira ini hanya angan belaka. Tak ku sangka kini harapan itu menjadi nyata. “
    Senin di minggu berikutnya, Retha kembali mendapatkan surat berisi kode yang kali ini tidak lagi misterius baginya. Kode di dalam surat pagi itu tidak jauh berbeda dengan surat sebelumnya. Kode bertuliskan G.5.50.25.12-14 tepat menunjukkan nomor rak, nomor baris dalam rak, dan nomor buku di perpustakaan. Tanpa ragu lagi, Retha bergegas menuju perpustakaan. Diambilnya buku yang ternyata berjudul “Kamu” lalu dibacanya dengan segera. Sambil duduk santai di pojok ruang baca, ia membuka lembar demi lembar buku itu menuju halaman 25. Pandangan matanya terfokus pada baris ke-12 hingga ke-14.
“ Bagaimana bisa denyut nadi ku tiba-tiba berdenyut cepat. Bagaimana bisa nafasku mendadak sesak. Bagaimana bisa di setiap sudut ku memandang hanya ada dirimu. Kamu. Selalu kamu.”
   Retha kembali terenyuh oleh rangkaian kalimat yang menyentuh hati. Rasa penasaran semakin menghantui dirinya. Siapakah sebenarnya pengirim surat itu?

***
    Senin di minggu ketiga, Retha membuat strategi untuk mencari siapa pengirim surat yang diterimanya dua minggu berturut-turut itu. Ia sengaja bersembunyi di dalam ruang sekretariat dan sesekali mengintip ke arah Love Box melalui jendela. Lalu lalang para murid yang memasukkan surat ke dalam Love Box cukup ramai pagi itu. Saat situasi terlihat sepi, Retha segera bergegas memeriksa isi Love Box. Sayangnya, tak ada satupun surat yang ditujukan kepadanya. Ia kembali menunggu hingga beberapa menit berlalu.
     “ Retha? Ngapain lo ngintip-ngintip gitu? Pintu ditutup lagi. Gue kira ga ada orang di dalem. “ seru Randy mengagetkan Retha.
     “ Eh, Randy. Iseng aja liat-liat keluar. Hehe. Tumben lo dateng sepagi ini? “ jawab Retha mengalihkan pembicaraan.
       “ Kan senin ini tugas gue nganter surat, Tha. Mau bantuin? Hehe. “
       “ Oke. Gue ambil surat-surat di Love Box ya. “
       Retha bergegas menuju Love Box. Ia dan Randy bersama-sama memeriksa satu per satu surat itu. Mereka terlihat fokus mengelompokkan surat-surat itu berdasarkan kelas. Mata Retha tiba-tiba terbelalak. Ia menemukan surat yang ditujukan kepadanya. Surat dengan amplop yang sama bertuliskan “Untuk Maretha – XI IPA 1”. Secepat kilat ia menyembunyikan surat itu di dalam saku rok nya. Tak kuasa menahan rasa penasarannya, ia ingin membaca surat itu secepatnya.
        “ Ran. Gue ke kelas dulu ya. Si Sherill nyariin gue. Nanti pas istirahat gue bantu anter suratnya. “ ujar Retha mendadak ingin pergi.
       “ Oh oke. Oiya, Tha. Nanti pulang sekolah jam 3,  jangan lupa nonton pertandingan basket ya. Kelas gue lawan XI IPS 3. Hehe.” sahut Randy sebelum Retha beranjak pergi.
         “ Oke. Sip. “ balas Retha tersenyum.
     Setibanya di kelas, Retha langsung membuka surat itu. Surat berisi kode yang serupa dengan kode-kode sebelumnya. Kode kali itu bertuliskan “B.1.77.24.3-5”. Tanpa ragu dan berpikir panjang, Retha bergegas menuju perpustakaan. Ditemukannya buku berjudul Cinta Pertama. Segera ia buka halaman ke 24 buku itu. Pandangan matanya terfokus pada baris ke-3 hingga baris ke-5.
“ Ketika cinta pertama sulit terlupakan. Sebuah pengakuan sulit kuungkap. Sebuah pernyataan pun sulit kutulis.  Hingga tiba waktunya, sungguh ingin ku buat itu menjadi mudah”
    Tanpa sadar, Retha melewatkan satu pesan yang tertulis di sudut kanan bawah surat. Pesan itu bertuliskan “Lapangan 3”. Rasa penasaran Retha semakin memuncak. Segala dugaan bermunculan satu per satu dalam pikirannya. Lapangan? Mungkin yang dimaksud adalah lapangan basket yang memang sering digunakan. 3? Apakah angka ini menunjukkan jam? Retha seketika teringat Randy yang memintanya untuk menonton pertandingan basket sore nanti jam 3. Dugaan Retha kini jelas tertuju hanya pada Randy.

***
    Pertandingan basket sore itu berlangsung seru. Retha dan Sherill menyaksikan pertandingan dari balkon lantai dua. Pandangan mata Retha tertuju pada Randy. Sesekali matanya juga tertuju pada seseorang dari tim lawan kelas Randy – Fadli. Segala pemikiran aneh tentang apa yang akan dilakukan Randy nanti mulai berkecamuk dalam pikiran Retha. Tak disangka waktu berlalu begitu cepat. Semakin berlalunya waktu, semakin kencang degup jantung Retha.
        Pertandingan pun usai. Tim kelas Fadli mengalahkan tim kelas Randy dengan skor yang berbeda tipis. Siapa yang menang siapa yang kalah sebenarnya tidak menjadi masalah bagi Retha. Yang menjadi masalah adalah apa yang akan dihadapinya setelah ini. Sambil menunduk, ia menghela nafas panjang. Belum sempat selesai menghela nafas, tiba-tiba seantero sekolah berteriak histeris.
         “ Tha! Tha! Tha! “ seru Sherill sambil mengguncang tubuh Retha.
         Tubuh Retha seketika membeku. Matanya terbelalak. Mulutnya tak mampu terkatup. Sebuah spanduk merah sepanjang 2X1 meter bertuliskan tinta perak berkilau “I LOVE YOU MARETHA!!!” tergeletak tepat di tengah lapangan. Sontak seantero sekolah menyerukan nama Maretha dan memintanya untuk turun ke lapangan. Kaki Retha mendadak lemas. Dengan langkah yang berat, ia menapaki tangga turun menuju lapangan.
          Tulisan “I LOVE YOU MARETHA!!!” tampak berkilau berkat terpaan sinar matahari di sore hari yang masih terik. Retha dengan malu-malu memberanikan diri melangkahkan kaki mendekati spanduk itu. Teriakan histeris seantero sekolah semakin menggila. Tanpa sadar, seseorang muncul dari balik punggung Retha.
          “ Halo Maretha! “ sapa seseorang tiba-tiba.
        Retha sontak membalikkan tubuhnya. Jantungnya masih berdegup kencang – bahkan kali ini lebih kencang. Di bawah terpaan sinar matahari, kedua mata Retha dan seseorang itu saling bertemu. Ekspresi kaget setengah mati tampak jelas di wajah Retha.
          “ Fadli??? “ tanya Retha ragu.
        “ Iya ini Fadli. Maaf udah bikin surprise kayak gini. Pasti lo bertanya-tanya kenapa gue dan kenapa lo. “ ujar Fadli memulai pembicaraan.
         “ Hm. Iya. “ gumam Retha yang tampak kaku – tak mampu banyak bicara.
        “ Sadar ga, Tha? Kita berdua dulu satu SMP. Gue udah suka sama lo dari SMP. And you are my first love.” jelas Fadli terus terang.
        “ Hah? “ tanya Retha tak percaya.
     “ Mungkin dulu waktu SMP gue ga sekeren dan sepopuler ini. Jadi lo ga nyadar keberadaan gue waktu itu. Gue seneng banget sekarang kita satu SMA. “
         “ Oh. Maaf kalo gitu. Gue baru sadar.” wajah Retha mulai memerah.
       “ Gapapa. Sekarang gue cuma mau bilang. I love you Maretha. Are you gonna be my girl? “ ungkap Fadli tanpa ragu.
     Retha hanya bisa menganggukkan kepala – pertanda iya. Fadli seketika membelai rambut Retha lalu berteriak keras “ Gue diterimaaaaaaaaaaaaaaaa! “ Sontak seantero sekolah kembali berteriak histeris. Senyuman bahagia kini tampak menghiasi wajah Retha dan Fadli.
               

First Love (From Reply 1997)


First love is a period of time 
It never comes back
If the next love comes, time has to yield for that new love
It might not be as innocent as the first love
But it would be a little more mature due to the pain suffered with the first love

So first love become part of one's exhausted daily life
That's why first love looks like it can't be accomplished
Because no one talks about a succesful romance with first love

From: Korean Drama "Reply 1997"

When You Fall in Love


From the book "The Science of Love and Betrayal"

“ What happens when we fall in love is probably one of the most difficult things in the whole universe to explain. It’s something we do without thinking. In fact, if we think about it too much, we usually end up doing it all wrong and get in a terrible muddle. That’s because when you fall in love, the right side of your  brain gets very busy. The right side is the bit that seems to be especially important for our emotions. Language, on the other hand, gets done almost completely in the left side of the brain. And this is one reason why we find it so difficult to talk about our feelings and emotions: the language areas on the left side can’t send messages to the emotional areas on the right side very well. So we get stuck for words, unable to describe our feelings. ”

Evolutionary Psychologist, Robin Dunbar



Jaman Dulu Itu Keren Meeen

Nostalgia Sherina Kecil


Siapa sih yang ga kenal penyanyi cilik Sherina? Yup, buat kamu-kamu yang semasa kecil lagi berada di jaman-jamannya Sherina, pasti seneng banget dong yaaa. Lagu-lagu Sherina jaman dulu enak-enak loh. Ga nyesel deh masa kecil kita dulu emang keren, haha. Coba bandingin sama masa anak kecil sekarang yang bahkan penyanyi cilik pun jarang. Bersyukur deh kita dulu punya Sherina, Trio Kwek Kwek, Joshua, Tasya, Maissy, sampe Chikita Meidy. Tau ga? Sewaktu kecil, Sherina udah ngerilis tiga album loh. Buat kamu-kamu yang dulu sempet melewatkan lagu-lagu Sherina di ketiga album tersebut, di sini bakal dibahas satu per satu. Check this!

Andai Aku Besar Nanti


Ini album debut Sherina yang dirilis tahun 1999, Wow! Di dalam album ini terdapat tujuh lagu yang keren-keren banget deh pokoknya. Ini dia daftar lagu-lagunyaaa. Kamu bisa langsung download juga loooh.

Andai Aku Besar Nanti
http://www.4shared.com/mp3/6BHFG3R3/Sherina_-_Andai_Aku_Besar_Nant.html
Balon Udaraku
http://www.4shared.com/mp3/R9hM0MgS/sherina_-_balon_udaraku.html
Bermain Musik
http://www.4shared.com/mp3/hQ2MDYwM/sherina_-_bermain_musik.html
Dua Balerina
http://www.4shared.com/mp3/qaT7fRcS/sherina_-_dua_balerina.html
Kembali Ke Sekolah
http://www.4shared.com/mp3/ReF0Fi6g/Sherina_-_Kembali_Ke_Sekolah.html
Pelangiku
http://www.4shared.com/mp3/DKworQqJ/sherina_-_pelangiku.html
Putri Dalam Cermin
http://www.4shared.com/mp3/QxJ3A9Qv/sherina_-_putri_dalam_cermin.html

Petualangan Sherina

 

Nah, ini album kedua Sherina yang dirilis tahun 2000. Album ini juga sekaligus sebagai album soundtrack film Petualangan Sherina. Siapa sih yang ga tau film ini? Film masa kecil yang sampe sekarang pun kita ga bosen-bosen buat nonton film ini ya. Bahkan sampe ada aja yang hafal tiap dialog di tiap adegan film ini, hehe. Berikut daftar lagu-lagunyaaa. Bisa didownload jugaaa.

Anak Mami
http://www.4shared.com/audio/aSMPev7l/SHERINA__PETUALANGAN_SHERINA__.html
Bintang Bintang
http://www.4shared.com/mp3/eFZiQkMM/sherina-bintang-bintang.html
Jagoan
http://www.4shared.com/audio/qOB3OBlQ/Sherina_Feat_Rodo_-_Jagoan.html
Kertarejasa
http://www.4shared.com/audio/TEwIxbdj/Sherina_ft_Djaduk_Ferianto_-_K.html
Lihatlah Lebih Dekat
http://www.4shared.com/mp3/tXuopzcs/sherina_-_lihatlah_lebih_dekat.html
Menikmati Hari
http://www.4shared.com/mp3/2f0AncQI/menikmati_hari.html
Persahabatan
http://www.4shared.com/mp3/X5o_UcXQ/sherina_-_persahabatan.html
Petualangan Sherina
http://www.4shared.com/mp3/W3k653H9/petualangan_sherina__theme_son.html

My Life


Album ketiga ini sekaligus album terakhir Sherina di masa kecilnya. Sedih memang waktu Sherina udah ga bikin album lagi setelah album ketiga ini. Di album terakhir ini terdapat sembilan lagu yang ga kalah kerennya seperti lagu-lagu di album sebelumnya. Ini daftar lagu-lagunyaaa. Silakan di download jugaaa.

Aku Beranjak Dewasa
http://www.4shared.com/mp3/TYbPeX5l/sherina_-_aku_beranjak_dewasa.html
Click Clock
http://www.4shared.com/audio/DrPsmlzJ/Sherina_-_Click_Clock.html
My Life (English)
http://www.4shared.com/audio/D3Lzpwdt/Sherina_-_My_Life__English_.html
Curahan Segalanya
http://www.4shared.com/mp3/SJGnf0c8/sherina_-_curahan_segalanya.html
Sahabat Sepanjang Masa
http://www.4shared.com/mp3/kp57JyUd/sherina_-_sahabat_sepanjang_ma.html
Sebuah Rahasia
http://www.4shared.com/audio/sDn7Hnot/Sherina_-_Sebuah_Rahasia.htm
Kisah Sang Lebah
http://www.4shared.com/audio/X_6VcBnH/Sherina_-_Kisah_Sang_Lebah.html
Kotak Musikku
http://www.4shared.com/audio/gU3czjar/Sherina_-_Kotak_Musikku.htm

Nah, gimana? Udah denger lagu-lagunya kan? Keren-keren bukan? Itulah mengapa jaman dulu itu emang keren meeen, haha.

Salam Jadul
Sekian



Banjarsari in Action

KKP Production, Proudly Present ,,,

Movie 1, Action! 

Movie 2, Action!



Main Cast 

Actor : Khoerur Roziqin
Actress: Agutina Rahayu, Sarah Nur Amalia,  Karina Indah Pertiwi, Nanda Fira Pratiwi, Intan Endawaty

Walk-on Cast 

The Ciloa's
The Banjarsari'ers
The Garut'ers


In The Lift We First Meet (9)


2012


Pagi itu di ruang kuliah yang terkesan sejuk, anak-anak malah nampak sedang riuh membicarakan nilai mereka, apalagi kalo bukan nilai fisika. Terlihat Karra yang sedang membawa buku dan berjalan ke arah seseorang.
Karra: “Arya.“ [menghampiri Arya]
Arya: “ Ada apa, Ra? “
Karra: “ Ini hasil perhitungan praktikum kemaren, tapi belum gue koreksi lagi.”
Arya: “ Oke, ntar sambil gue periksa lagi deh.”
Karra: “ Eh, gimana nilai fisika lu?”
Arya: “ Jelek banget, haha, lu?”
Karra: “ Gue juga kali. Cuma bener belasan, haha.”
Arya: “ Gue satuan dong, haha.”
Wira: “ [tiba-tiba menghampiri Karra dan Arya]
Karra: [muka kaget]
Wira: “ Eh, eh, lagi pada ngomongin apaan sih? “ [nyamber kaya petir]
Arya: “ Fisika, haha.”
Wira: “ Emang nilai fisika lu berapa, Ra?”
Karra: “ Gue sensitif ditanya nilai.” [bergegas pergi]
Wira: [muka cengo]
            Jelaslah lah Karra sensitif ditanya nilai fisika sama si Wira, ga terlepas dari kejadian kemarin. Sejak itu, Wira mendadak jadi copycat yang selalu bilang “ Gue sensitif ditanya nilai” setiap ditanya nilai sama orang-orang. Sebagai contoh, beberapa menit setelah itu.
Akbar: “ Eh, Ra, nilai Sosum udah keluar noh ditempel di Asrama. Lu berapa? ”
Wira: “ Gue sensitif ditanya nilai.” [ngikutin gaya Karra]
            Sontak lah Karra yang berada ga jauh dari tempat mereka ngobrol itu langsung mencak-mencak. Karra semakin ga ngerti sama tingkah polah Wira. Herannya, setiap dibikin kesel sama Wira, Karra tu cuma bisa diem terus bukannya marah eh malah galau, yaelah.

*****

            Siang harinya, Karra, Fara, Dena, Akbar, dan Bima makan siang bersama di suatu kantin. Mereka berlima terbilang cukup akrab meskipun Akbar dan Bima lebih sering menghabiskan waktu bersama Wira and the boy band plus girl band nya itu alias Rahma, Hani, Safi, dan Mela. Topik pembicaraan sembari makan siang itu nampaknya seru.
Bima: “ Eh eh, uda pada nonton film 2012 belom? “
Dena: “ Belum tuh, Ma. “
Fara: [geleng-geleng]
Karra: “ Belom. Tapi besok gue mau nonton sama sohib gue di Jakarta.”
Akbar: [menyimak]
Bima: “ Pulang lu, Ra, besok? Pulang mulu, dasar homers, haha.”
Karra: “ Sial, apa bedanya sama lu, homers juga, haha.”
Akbar: “ Eh besok kita-kita juga mau nonton loh.”
Fara: “ Kita-kita tu siapa deh? ”
Akbar: “ Gue, Bima, Wira, Kevin, Rahma, Hani, Safi, Mela, and many more lah. Lu ikutan aja kalo mau.”
Dena: “ Yah, tapi Karra besok pulang.”
Fara: “ Iya lu, Ra, jangan pulang sih.”
Karra: “ Bukannya gitu. Gue udah janji nonton 2012 sama sohib gue itu dari jauh-jauh hari. Maap ya temen-temen.”
Bima: “ Yaudah sih Karra ini, biarin. Lu berdua aja yang ikut, haha.”
Akbar: “ Yaelah, paketan amat sih lu bertiga, udah kaya sms, haha.”
Karra: “ Sial lu, haha.”

*****

            Sore harinya, anak-anak terlihat bergegas ke ruang kuliah yang terbilang gaul itu. Gimana ga gaul. Itu ruang kuliah ibarat bioskop. Bangku-bangku di ruang kuliah itu memang tertata apik layaknya kursi bioskop plus layar LCD setaraf layar lebar. Suasana ruang kuliah pun ga beda jauh sama suasana bioskop yang full AC, lebih tepatnya AC alam. Bedanya, kalo di bioskop kita bisa terkesima sama film yang diputer di layar, nah kalo di ruang itu kita bisa sangat-sangat terkesima sama slide kuliah yang diputer di layar. Saking terkesimanya, kita sampe terlena dan tertidur pulas dibuatnya, haha.
            Karra dan Tita nampak berjalan bersama menuju ruang kuliah itu. Secara ya itu kuliah kelas besar, jadinya ga jarang Karra bisa berangkat bareng Tita. Nampaknya orang yang berjalan di belakang Karra dan Tita tidak asing lagi bagi Karra dan Tita tentunya. Orang itu adalah siapa lagi kalo bukan Wira. Karra langsung tersadar keberadaan Wira di belakangnya. Tersadar karena suara canda tawa Wira. Sepertinya hidup Wira tu mulus-mulus aja ya, penuh canda tawa setiap harinya. Menyadari hal itu, Karra pun segera berpikir cepat menghindari hal-hal konyol yang mungkin akan terjadi. Karra spontan mengajak Tita berbelok ke arah toko jajanan yang berada ga jauh dari situ. Harapan Karra adalah Wira bakal jalan lebih dulu jadinya ga bakal berpapasan dan sejenisnya lah, intinya ga ketemu.
Tita: “ Eh, Ra, mau kemana? “
Karra: “ Ke toko situ yuk, beli cemilan. Yakin lu bisa bertahan kuliah nanti tanpa cemilan? Ada juga tidur lu ntar, haha.”
Tita: “ Haha bener juga. Mau beli permen ah gue biar ga ngantuk.”
Karra: “ Nah bener tu. Gue juga mau beli choki-choki.”
            Selang beberapa menit, setelah membeli cemilan-cemilan itu, mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan lagi menuju ruang kuliah. Alih-alih Karra mau menghindari Wira, eh malah terjadi hal sebaliknya. Kamuflase Karra kali ini gagal lagi karena tiba-tiba, jeblak!
Tita: “ Oi, Wira.”
Wira: [menghampiri Karra dan Tita]
Tita: “ Abis jajan itu lu? Apaan tu? “
Wira: “ Iya nih kue-kue an, laper gue, hehe.”
Karra: “ Kue-kue an? Kue maenan berarti.” [bergumam dalam hati]
Tita: “ Kita sekelas besar tapi malah jarang ngobrol-ngobrol ya, Ra.”
Wira: “ Haha, iya juga ya ta. Wew, minuman tu dingin, seger kayanya.” [mengalihkan pandangan ke arah minuman yang dipegang Karra.”
Karra: [memicingkan mata lalu tersenyum terpaksa]
Tita: “ Yuk yuk, jalan ke kelas. Udah pada rame tuh.”
            Berasa kesamber petir lagi tu si Karra. Oyaampun, bisa ga sih sehari aja hidup Karra terbebas dari Wira. Karra bener-bener ga abis pikir. Kali ini Karra ga boleh gagal berkamuflase lagi. Saatnya mencari tempat duduk yang aman dan nyaman plus ga terjangkau dari keberadaan Wira. Tapinya ya seperti biasa, tempat duduk Karra udah dipesen khusus alias di take-in sama Fara dan Dena. Karra terpaksa deh duduk di samping Fara dan berharap ga bakal ada yang duduk di sebelahnya. Karena bangku di sebelah Karra itu kosong jadinya was-was juga. Hal sebaliknya pun terjadi lagi karena tiba-tiba aja ada yang duduk di sebelah Karra. Siapa lagi kalo bukan, jeblak!
Wira: “ Ra, bisa bukain ini ga? Bungkus plastiknya susah dibuka, tangan gue licin, hehe.” [muka standar]
Karra: “ Mana sini, gue coba dulu ya.” [muka terpaksa]
Wira: “ Yah lama deh, keburu laper.” [muka mulai tengil]
Karra: “ Ya ini bungkusnya juga licin. Nih, udah.”
Wira: “ Ga jadi deh, buat lu aja.”
Karra: [muka cengo]
Wira: [cengar-cengir]
Karra: “ Fara, lu mau ga nih kue? dari Wira.”
Fara: “ Mana sini, gue laper, makasih-makasih.” [muka polos]
            Kejadian itu sempet bikin Karra ketawa, tapi ketawa yang ditahan tentunya. Sebenarnya Karra ga kesel sama Wira. Justru Karra seneng. Karra emang suka sama Wira yang ga kenal mati gaya, blak-blakan, ekspresif, plus autis. Terlepas dari semua tingkah polah Wira itu ya intinya Karra suka sama Wira pada pandangan pertama. Untungnya setelah kejadian itu, Wira langsung pindah tempat duduk di deket boyband and girlband nya itu tentunya. Jadinya Wira nyamperin tempat Karra cuma buat minta tolong bukain plastik bungkus kue? Oyaampun.
           
*****
           
            Seperti biasa, kuliah bioskop itu berlangsung dengan hening. Bukan keheningan yang berarti anak-anak menikmati slide demi slide kuliah yang diputar di layar, tetapi keheningan sejati dari anak-anak yang sedang menikmati alam mimpinya, haha. Dua jam pun terlewati sudah. Saatnya mimpi anak-anak sejati itu berakhir pula. Namun ternyata ada juga seseorang yang tak kunjung terbangun dari mimpinya. Ternyata pula, orang yang bersangkutan itu duduk di bangku paling ujung deket pintu keluar. Otomatis terhambatlah itu jalan anak-anak yang mau keluar kelas. Alhasil, terjadi lah kehebohan.
Wira: “ Aduh itu kenapa lagi yang depan jalannya lama amat.”
Karra: [tidak sengaja mendengar keluhan Wira]
Wira: “ Deuh, bikin gue sensitif aja deh ni. Iya ga Karra? ”
Karra: [ngangguk]
Wira: “ Apalagi kalo ditanya nilai, makin sensitif deh, haha.” [muka tengil]
Karra: [menghembuskan nafas]
            Untungnya, antrian itu ga berlangsung lama. Lalu lintas jalan keluar kembali lancar. Karra dan Wira nampak berada tidak jauh. Karra pun mencoba memberanikan diri memulai sesuatu yang tanpa Karra kira bakal berdampak fatal untuk kehidupan Karra selanjutnya.
Karra: “ Ra, kenapa sih lu, ngikutin kata-kata gue mulu? Daritadi ya itu.”
Wira: “ Gue kan ngefans sama lu, Karra.” [cengar-cengir]
Karra: “ Yang ngefans sama gue banyak kali.” [bergegas pergi]
            Jujur, Karra kurang terima sama jawaban Wira itu. Bagi Karra, itu jawaban standar, jawaban aman, yang ga bisa ngejawab kegalauan Karra selama ini. Jawaban itu justru membuat Karra makin galau. Karra secepat mungkin meninggalkan tempat itu. Tanpa Karra sadari, ada seseorang yang mengikuti langkah cepat Karra dan berhasil mendahului bahkan menghentikan langkah Karra.
Wira: “ Karra, besok ikut nonton ya.” [kali ini muka serius]
Karra: “ Nonton? ” [kaget]
Wira: “ Iya, besok siang abis selese kuliah.”
Karra: “ Tapi gue…” [belum selese ngomong]
Wira: “ Jangan pulang.”
Karra: “ Bukan gitu, gue ada janji  nonton juga sama temen gue di Jakarta. Jadi…” [belom selese ngomong]
Wira: “ Yah, ikut ya pokonya.” [bergegas meninggalkan Karra]
Karra: [muka cengo]
            Demi apapun. Itu Karra diajak nonton sama Wira? Ya emang nonton bareng anak-anak sih. Tapinya ya itu Wira sendiri yang ngajak Karra secara langsung. Karra spontan merasakan sensasi yang jelas beda dibanding sewaktu tadi diajak Bima sama Akbar. Sensasi itu adalah sensasi rasa kegirangan yang tiada tara. Tapi, mungkinkah Karra mengikuti ajakan Wira sementara di hari yang sama Karra harus pulang menemui sahabat nya yang sudah kepalang janji untuk nonton bareng? Sungguh itu pilihan yang sulit bagi Karra. Hari itu mungkin akan menjadi hari tergalau bagi Karra. Di sela-sela pikiran Karra yang mendadak kacau, tiba-tiba aja ada yang memanggil Karra.
Arya: “ Karraaa.”
Karra: “ Arya.”
Arya: [menghampiri Karra]
Karra: [muka masih cengo]

- to be continued -

In The Lift We First Meet (8)

Drama Queen

          Tidak terasa tiga bulan terlalui sudah. Ritual wajib perkuliahan, Ujian Tengah Semester alias UTS, pun sudah terlalui. Yang akan dan sedang dilalui adalah ritual kegalauan nilai ujian, haha. Emang dasar itu pelajaran yang maha abstrak atau emang dasar si Karra yang bener-bener ga bakat dalam hal keabstrakan, fisika. Itu nilai fisika Karra jelek banget. Dari 30 soal pilihan, cuma segelintir jawaban Karra yang bener, haha. Karra pun sampe meneteskan air mata loh gara-gara itu. Apakah Karra benar adanya Karra menangis gara-gara nilai fisika nya itu?
     Sore itu, cuaca sedikit mendung. Namun nampaknya Karra ceria-ceria aja. Sementara Fara dan Dena nampak hampir ikutan mendung juga tuh. Karra, Fara, dan Dena berjalan ke tempat yang mendadak ngetrend saat itu, Mading (majalah dinding) nilai UTS, haha. Sesampainya di sana, terlihat lah segerombolan anak-anak dengan tingkat ke-kepo-an yang tinggi. Sebaliknya, Karra yang terlihat tenang. Emang dasar mati rasa kali ya tu si Karra. Jelas-jelas, waktu UTS, Karra ga bisa ngerjain soal-soal maha abstrak itu. Sekarang malah sempet-sempetnya berharap ada petir pembawa keajaiban buat nilai fisika Karra, harapan semu, haha.
        Fara dan Dena dengan tingkat ke-kepo-an yang cukup tinggi akhirnya berusaha sekuat tenaga menerobos segerombolan orang itu ke barisan paling depan. Karra pun mengikuti aksi mereka berdua.
Fara: “ Bener berapa lu, Ra? “ [muka sedih]
Karra: “ Hm, 13 deh tadi kayanya.” [muka tanpa penyesalan]
Fara: “ Mending, gue 11.” [makin sedih]
Karra: “ Masih banyak yang lebih jelek kok, tenang-tenang.” [muka tanpa rasa bersalah]
Fara: [muka mendung]
Dena: [muka lebih mendung]
       Setelah aksi ke-kepo-an itu, mereka pun bergegas kembali ke asrama. Di tengah perjalanan kembali ke asrama, tepatnya di pinggir jalan, tiba-tiba aja, jeblak!
Mita: “ Denaaaaa.” [melambaikan tangan]
Dena: “ Eh Mitaaa.” [melambaikan tangan juga]
Wira: [muka tertutup helm, pandangan lurus ke depan]
Karra: “ Itu tadi siapa, Na, yang naek motor? Itu Wira kan yang di depan?” [penasaran]
Dena: “ Iya. Itu Wira sama cewenya, Mita.” [menjelaskan]
Karra: [muka berasa kesamber petir]
Dena: “Mita itu temen se-asrama aku, kamarnya di seberang kamar aku.” [menjelaskan]
Karra: “ Oh.” [muka stay cool]
Fara: [menyimak]
Dena: “ Lucu deh, Mita kan suka nanya-nanya soal Wira kalo di kelas gimana. Aku jawab aja Wira lucu, suka bikin ketawa, hehe. Kata Mita ya Wira emang begitu.”
Karra: [muka cengo]
Fara: [masih setia menyimak]

“ Apaaa???? Aaaa, dunia berasa sempit banget buat gue sekarang. Kenapa mesti Dena? Temen deket gue. Kenapa yang ada di deket gue mesti ikutan terlibat. Demi apapun, gue ga nyalahin mereka. Gue pun ga nyalahin cewenya Wira yang pake acara minta tolong ke si Tita segala sampe akhirnya gue tau segalanya. Gue terlalu cukup tau segalanya. Gue udah terlalu cukup tau tentang Wira dan seisinya. Yang ga gue tau adalah siapa Wira sebenarnya? Apa mungkin gue bakal tau? Gimana caranya? Gue ga punya muka yang bener. Bahkan bakal banyak muka yang gue tunjukkin di depan orang-orang. Kenapa mesti gue? Kenapa mesti Wira? Kenapa mesti Tita? Dan sekarang kenapa mesti Dena? “

*****

            Berasa beneran kesamber petir ya si Karra. Tapi nampaknya bukan petir keajaiban yang diinginkan Karra. Petir kali ini bukan petir biasa. Dalam perjalanan menuju kamar, Karra nampak lunglai dengan muka mendung yang hampir hujan. Di lorong asrama, Karra disambut dengan riuh orang-orang yang mengeluhkan nilai fisika. Karra sungguh tidak peduli dengan riuh itu dan nilai itu. Sesampainya di kamar, Karra pun langsung disambut oleh Septi dan Tita.
Septi: “ Karra, kenapa muka lu begitu? “ [heran]
Tita: “ Kenapa, Ra. Emang fisika lu bener berapa? “
Karra: “ Fisika gue jelek.” [meneteskan air mata]
Septi: “ Yaampun Karra, jangan nangis. Udah cupcup. “ [menenangkan Karra]
Tita: “ Fisika gue juga jelek kok, Ra. Tenang aja.”

“ Gue nangis gara-gara tu fisika? Ya ngga lah. Dosa apa gue mesti ngedosa begini. Jadi muka dua banget gue. Should be this a white lies for whom I sacrifice more than anyone? It’s not just a fairy tale, it’s too drama. And now, the truly drama queen is me.”

- to be continued -

Other Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Followers